Friday, 1 June 2012

Diary Bagai Naskah Hidup Kita yang Lalu

Posted by Risandi Oktarina at 20:25

Intermezo :

            Sebuah hal yang pernah mendampingi hidup saya di masa SD – SMP. Cukup banyak menyimpan kenangan yang aneh. :D
Anda pasti sudah tidak asing dengan kata “diary”. Walaupun sudah tidak asing di dengar, tetapi tidak semua orang berminat untuk menulis diary, karena mungkin orang tersebut berfikir bahwa menulis yang sudah di alami itu buang-buang waktu dan terkesan konyol. Apa lagi kalau sampai terbaca orang lain, itu akan cukup membuat muka kita berwarna seperti cabai. :D
            Mungkin juga anda berfikir kalu menulis apa yang sudah anda lakuakan, lalu anda lihat kembali tulisan itu, itu adalah sebuah tulisan yang tidak bernilai. Ketika anda berfikir seperti itu, yakin kah anda dengan yang anda fikirkan? Mungkin saat ini tidak menarik, karena hanya ada 1 lembar atau 2 lembar kertas berisi rentetan kejadian atau ungkapan perasaan yang anda alami. Namun, bagaimana dengan 1 bulan ke depan? Atau 1 tahun ke depan? Sudah lain lagi bukan ?
            Lalu dari sisi orang yang suka menulis diary, pasti berfikir kalau menulis apa yang di alami dan di rasakan adalah hal meyenangkan. Karena bisa membuat kita lega, meluapkan segala emosi kita. Pasti kita bisa merasa lebih baik setelah menulis diary. Bukan begitu?

About diary :
           
Diary adalah sebutan untuk sebuah buku kecil yang cantik dan berisikan tentang pengalaman yang kita alami sehari-hari. Segala hal yang kita rasakan, segala hal yang telah kita lakukan, mungkin juga berisi hal lain selain tentang ungkapan perasaan.
Biasanya diary di tulis pada sebuah buku yang cantik dengan berbagai model dan warna. Lalu untuk penulis sendiri, kebanyakan dari kaum hawa. Karena biasanya yang paling sering mengungkapkan isi hati adalah perempuan. Pada diary biasanya tertera waktu penulisan yang meliputi tanggal, bulan dan tahun. Biasanya juga ada tempat/lokasi kejadian yg kita alami
Ketika seseorang menulis diary, biasanya segala emosi yang ia rasakan seperti merasuk di tulisan itu. Mulai dari marah, sedih, senang, sampai bosan , semua pasti tertuangkan, dan ketika diary selesai di tulis, biasanya si penulis merasa lega.
Diary bisa di jadikan sebagai tempat kita bercerita, di kala tak ada orang yang mau mendengar. Diary bisa menjadi tempat kita menuangkan ekspresi diri kita, di kala tak ada yang mau memperdulikan kita. Diary bisa kita jadikan sebagai teman cerita yang tak mungkin bisa membocorkan rahasia kita ke orang lain. Semua hal yang kita mau, bisa kita tulis di sana. Semua tulisan tentang hidup kita akan terukir rapi di buku diary kita.
Semakin sering kita mengisi buku diary kita tentang kisah kita, maka semakin banyak pula cerita yang terkumpul. Semakin banyak cerita yang terkumpul, semakin baik. Ketika kita sudah menjadi orang yang sibuk dan tidak sempat menulis diary lagi, kita pasti akan menyimpan buku diary itu baik-baik. Lalu di masa mendatang, disaat kita menemukan buku tersebut, lalu kita baca lagi. Apa kah yang mungkin kita rasakan?
Satu hal yang pasti di lakukan adalah tertawa. Karena kita membaca kembali yang berarti juga mengingat kembali kisah kita, kekonyolan kita, kesedihan kita, semuanya. Mungkin juga kita akan terharu saat membacanya, mengingat kenangan yang dulu pernah ada. Dan di saat itu lah kita akan menyadari, ternyata bukan hal buruk ketika kita menulis diary. Karena diary kita bisa menjadi buku cerita yang unik, di mana kita lah yang menjadi pemeran utamanya. Diary bagaikan naskah drama kehidupan kita di masa lalu.

******

0 comments:

Post a Comment

 

Sandi Blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea