Intermezo :
Sebuah hal yang pernah mendampingi hidup saya di masa SD –
SMP. Cukup banyak menyimpan kenangan yang aneh. :D
Anda
pasti sudah tidak asing dengan kata “diary”. Walaupun sudah tidak asing di
dengar, tetapi tidak semua orang berminat untuk menulis diary, karena mungkin
orang tersebut berfikir bahwa menulis yang sudah di alami itu buang-buang waktu
dan terkesan konyol. Apa lagi kalau sampai terbaca orang lain, itu akan cukup
membuat muka kita berwarna seperti cabai. :D
Mungkin juga anda berfikir kalu menulis apa yang sudah
anda lakuakan, lalu anda lihat kembali tulisan itu, itu adalah sebuah tulisan
yang tidak bernilai. Ketika anda berfikir seperti itu, yakin kah anda dengan
yang anda fikirkan? Mungkin saat ini tidak menarik, karena hanya ada 1 lembar
atau 2 lembar kertas berisi rentetan kejadian atau ungkapan perasaan yang anda
alami. Namun, bagaimana dengan 1 bulan ke depan? Atau 1 tahun ke depan? Sudah lain
lagi bukan ?
Lalu dari sisi orang yang suka menulis diary, pasti berfikir
kalau menulis apa yang di alami dan di rasakan adalah hal meyenangkan. Karena bisa
membuat kita lega, meluapkan segala emosi kita. Pasti kita bisa merasa lebih
baik setelah menulis diary. Bukan begitu?
About diary :
Diary
adalah sebutan untuk sebuah buku kecil yang cantik dan berisikan tentang
pengalaman yang kita alami sehari-hari. Segala hal yang kita rasakan, segala
hal yang telah kita lakukan, mungkin juga berisi hal lain selain tentang
ungkapan perasaan.
Biasanya
diary di tulis pada sebuah buku yang cantik dengan berbagai model dan warna. Lalu
untuk penulis sendiri, kebanyakan dari kaum hawa. Karena biasanya yang paling
sering mengungkapkan isi hati adalah perempuan. Pada diary biasanya tertera
waktu penulisan yang meliputi tanggal, bulan dan tahun. Biasanya juga ada
tempat/lokasi kejadian yg kita alami
Ketika
seseorang menulis diary, biasanya segala emosi yang ia rasakan seperti merasuk
di tulisan itu. Mulai dari marah, sedih, senang, sampai bosan , semua pasti
tertuangkan, dan ketika diary selesai di tulis, biasanya si penulis merasa
lega.
Diary
bisa di jadikan sebagai tempat kita bercerita, di kala tak ada orang yang mau
mendengar. Diary bisa menjadi tempat kita menuangkan ekspresi diri kita, di
kala tak ada yang mau memperdulikan kita. Diary bisa kita jadikan sebagai teman
cerita yang tak mungkin bisa membocorkan rahasia kita ke orang lain. Semua hal
yang kita mau, bisa kita tulis di sana. Semua tulisan tentang hidup kita akan
terukir rapi di buku diary kita.
Semakin
sering kita mengisi buku diary kita tentang kisah kita, maka semakin banyak
pula cerita yang terkumpul. Semakin banyak cerita yang terkumpul, semakin baik.
Ketika kita sudah menjadi orang yang sibuk dan tidak sempat menulis diary lagi,
kita pasti akan menyimpan buku diary itu baik-baik. Lalu di masa mendatang, disaat
kita menemukan buku tersebut, lalu kita baca lagi. Apa kah yang mungkin kita
rasakan?
Satu
hal yang pasti di lakukan adalah tertawa. Karena kita membaca kembali yang
berarti juga mengingat kembali kisah kita, kekonyolan kita, kesedihan kita,
semuanya. Mungkin juga kita akan terharu saat membacanya, mengingat kenangan
yang dulu pernah ada. Dan di saat itu lah kita akan menyadari, ternyata bukan
hal buruk ketika kita menulis diary. Karena diary kita bisa menjadi buku cerita
yang unik, di mana kita lah yang menjadi pemeran utamanya. Diary bagaikan
naskah drama kehidupan kita di masa lalu.
******




0 comments:
Post a Comment