Tuesday, 23 November 2010

HADIAH BERDARAH

Posted by Risandi Oktarina at 04:30

HADIAH BERDARAH


Seperti biasanya, malam Minggu ini Caca pergi bersama Riri untuk menemui Luna dan Vie di rumah mereka. Namun, malam Minggu ini tak seperti biasanya. Sesuatu menghantui fikiran Caca, dan hal itu cukup untuk merobek dan mencabik-cabik hatinya.

Sepanjang jalan yang gelap, Caca hanya melamun. Bahkan ia tak menyadari jika spidometernya sudah mencapai angka 80km/jam.

“Caca!” Teriak Riri yang ketakutan bukan main.
“Astaghfirullah, apa? Dimana? Siapa? Kenapa?”  Caca terkejut bukan main.
“kamu kenapa? Inget, ini di jalan sayank. You tu sekarang lagi nyetir. Kenapa sih kamu?” Teriak Riri untuk menyadarkan temannya yang tampak aneh itu.
“Udah lah, aku nggak apa-apa.” Jawabnya lirih.
“Aneh kamu. Bentar lagi nyampe. Awas! Jangan ngelamun lagi, nanti kita nyungsep.” Sahut Riri ketus.

Tanpa membalas kata-kata Riri, Caca langsung menghentikan sepeda motornya. Mereka berdua sudah tiba di rumah Luna. Segera Riri memanggil Luna, tak lama kemudian munculah Luna dari balik pintu.

Sayank…….” Teriak Luna yang begitu senang bertemu dengan sahabat-sahabtnya.
Lebay deh loh. Kayak orang gak pernah ketemu 50 tahun aja.  Sahut Caca.
“Hehehehehe, ya gitu dech. Bentar aku panggil dulu si Vie
“Ukeh.” Sahut Riri dengan semangat.

Tak lama kemudian, muncul Vie dari belakang Luna. Seperti biasa, keempat gadis ini duduk di belakang rumah Luna sambil menikmati pemandangan laut malam. Begitu indah, air laut yang tenang di terpa cahaya bulan, tampak sangat indah berkilau bak permata.

Keempat gadis itu terdiam, mereka terpanah akan keindahan alam ciptaan Allah. Malam ini sungguh lain, laut tampak lebih indah dari biasanya. Suasana begitu sunyi, hanya terdengar ombak pantai yang tak seganas biasanya. Keheningan pun terpecah saat Vie memainkan music lewat hpnya.

“Lagu apaan tu Vie?” Tanya Caca
“Udah lah dengerin aja. Ni lagu enak banget tau.” Jawab Vie denga semangat.
“Jangan lagu Skuter Matic yang itu lagi lho ya.” Sindir Luna.
“Gak lah, Sayank.” Vie menjawab dengan nada sedikit jengkel.


Caca menajamkan telinganya, seketika itu keningnya berkerut dan  jiwanya tersentak bukan main saat mendengarkan lagu itu. Lagu yang sangat-sangat tak ingin di dengarnya saat ini. Lagu kenangan yang mengikat jiwanya dengan masa lalunya. Masa lalu yang menghantui hidupnya. Tanpa ia sadari, air matanya mengucur deras hingga membasahi kerah bajunya.

“Ca! kamu nangis? Kenapa, Ca?” Riri menyadari tangisan Caca.
“Lho, Ca? kamu kok nangis sih, kenapa?” Vie dan Luna terkejut.
“Nggak, aku nggak apa-apa. Mata ku keliliapan.” Sambil menghapus air matanya.
“Halah, jangan bohong deh! Aku lihat dari tadi kamu aneh kayak gini. Kamu pasti punya masalah.” Sahut Riri.
“Ca, cerita donk. Kamu kan tahu, kita pasti bantu apapun masalah mu.” Tambah Vie.
“Iya Ca, kita pasti bantu.” Luna tak mau kalah.
Caca terdiam untuk beberapa saat, air matanya mengucur makin deras. Ia tak sanggup menahan air matanya. Ketiga sahabatnya tak tega meliha caca seperti itu, mereka memaksa Caca untuk menceritakan masalahnya. Setelah beberapa menit berlalu Caca pun mulai bercerita.


“Tiga hari yang lalu, Kiki kecelakaan. Dia masuk rumah sakit.” Sambil tersedu-sedu, Caca bercerita.
“AAAPPPPAAAA??? KIKI???” Vie, Luna dan Riri terkejut bukan main
“Heem.” Dengan lemas, Caca menjawab.
“Kamu serius Ca? Kiki your boy friend itu kan?” Luna masih tak percaya.
Sahutnya lirih “Iya!”
“Lalu, sekarang gimana keadaannya?” Tanya Vie
“Dia….” Berat sekali Caca menjawabnya.
“Kenapa Ca! kenapa?” Riri makin memaksa.
“Gagar otak, ia hilang ingatan, sama sekali nggak ingat siapa-siapa. Termasuk aku. Huhuhuhu.” Tak kuasa ia membendung air matanya.
“Ya Allah, kok bisa? Kenapa kamu nggak cerita sama kita dari awal?” Luna prihatin.
“Aku nggak mau cerita, karena aku nggak mau bikin kalian khawatir. Ceritanya panjang.” Caca berusaha bercerita, walaupun berat.


Sudah lama kami tidak bertemu, sejak dia pergi ke Kalimantan bersama keluarganya 2 tahun lalu. Baru saja Senin kemarin dia pulang ke Surabaya. Sebenarnya, aku tidak mengetahui kedatangannya. Dia tak mau memberi tahu ku, karena hari Minggu lalu saat ia menelfonku, tanpa sebab ia marah pada ku. Aku bingung, sebenarnya ada apa dengannya.

Lalu, aku mencoba menelfonnya, namun tak dijawab. Aku pun meng-SMS dia, namun ia tak membalas. Aku bingung, ada apa dengan Kiki. Aku terus memikirkannya malam itu, sedetik pun tak bisa ku pejamkan mata.

Tanpa ku sadari, bulan sudah bergeser kedudukan dan sang surya pun terbit. Itulah sebabnya, hari Senin itu aku ketiduran saat pelajarannya Pak Monster. Saat pulang sekolah, aku segera kembali ke rumah, aku semakin bingung dengan Kiki. Sejak tadi aku telfon, namun hpnya tidak aktif.

Di tengah perjalanan, hampir saja aku menabrak tiang lampu. Aku berjalan sambil melamun, di fikiran ku hanya ada Kiki yang sikapnya aneh. Aku terus berjalan sambil menundukan kepala. Ketika aku hampir sampai di depan gerbang rumah, aku mendengar suara yang tidak asing, suara yang telah lama ku rindukan dan suara itu terdengar nyata, bukan halusinasi.

Anak laki-laki itu berseru. “Anastacia Chaitany!!”
Aku terkejut, dalam hati aku bergumam. “Siapa itu? Di tempat ini tak ada yang pernah mengeja namaku dengan benar, kecuali orang tuaku dan……”
Sekali lagi anak itu berseru. “Anastacia Chaitany!!”
“Kiki? Ya, Kkiiikkkiiiii…….” Seruku lirih.

Seorang anak lelaki yang sangat ku kenal, sedang duduk di atas CB-R birunya. Perlahan dia mendekatiku, dia menyentuh tangan ku, lalu memelukku yang masih terpaku. Aku tak bisa berkata-kata, aku tak bisa bergerak, jantungku berdetak kencang, keringat dingin mengucur dari kening ku. Aku sangat senang, tak ku sangka dia datang.

Dengan lembut ia berkata. “Caca, ini aku. Ricki Medjaya. Apa kau telah melupakan ku?”
“Kiki? Ricki Medjaya? Itukah dirimu? Ya Allah, benarkah ini kau?” sahutku bahagia.
“Iya, Caca sayang. Ini aku, Ricki Medjaya yang biasa kamu panggil Kiki”
“Ya Allah, kau benar-benar berbeda. Kau terlihat lebih dewasa, lebih tinggi dari sebelumnya. Kau, kau jauh lebih sempurna dari Kiki yang ku kenal dulu. Apakah benar ini kau?” tak kuasa aku menahan tangis bahagia.
“Caca sayang, coba kamu lihat baik-baik. Kamu pandang mataku, lihat lebih dalam. Ini aku.” Kiki berusaha meyakinkan kekasi hatinya itu.

Jemari kiki menyentuh wajahku, ia menatap mataku. Aku tak sanggup menolak tatapan matanya, ku terawang lebih dalam. Ternyata benar, ia Kiki. Ricki Medjaya kekasih hatiku. Ia banyak berubah 2 tahun ini.

“Ya Allah, Kiki. Kau tahu? Aku sangat merindukan mu. Aku.. aku.. huhuhuhu”
“Caca, kenapa kamu menagis? Kamu nggak seneng aku datang?”
“Kiki, aku bahagia banget. Akhirnya aku bisa ketemu kamu lagi. Aku nggak bisa ngomong betapa bahagianya aku saat ini.”
“Owh, Caca sayang. Kemarilah, datanglah kepelukanku.”

Aku pun menangis tersedu-sedu di pelukannya. Aku memeluknya dengan erat, seakan aku tak mau kehilangannya lagi. Aku sangat merindukannya, aku juga sangat menyayanginya. Dia lah bagian hidupku. Setelah aku kembali tenang, aku mengajaknya masuk ke rumah ku. Ku ajak Kiki bertemu dengan orang tuaku.

“Assalamualaikum, Ma, Pa? Aku pulang. Ada tamu istimewa bersamaku.” Ujar ku gembira.
“Waalaikumsalam” sahut mama dan papa kompak.
“Ada apa ini sayang? Kamu habis nangis?” Tanya mama.
“Iya ma, tapi tenang aja. Ini air mata bahagia kok.”
“kamu bilang ada tamu istimewa. Siapa?” Tanya papa pada ku.

Segera ku panggil Kiki masuk.

“Om, tante.” Sapanya ramah.
“Ini siapa sayang?” Mamaku kebingungan.
“kamu siapa? Apakah teman Caca?” Tanya papa ku curiga.
“Ma, pa, ini Kiki. Ricki Medjaya. Mama papa masih ingat kan?”
“Ya Allah Gusti, benar itu nak? Kamu Kiki?” Tanya mama ku.
“Iya tante, saya Kiki.”
“Wah, berubah sekali kamu? Berbeda jauh dengan Kiki yang dulu.” Tambah papa.
“Apa benar om, tante? Apa aku berubah drastis?” Kiki semakin keheranan.
“Benar, berubah sekali. Kapan kamu tiba, sayang?” Tanya mama.
“Semalam tante. Oh, iya. Om dan tante dapat salam dari mama dan papa ku, mereka minta maaf belum bisa berkunjung.”
“Oh, tidak apa-apa, biar om dan tante yang ke sana.” Sahut papa ramah.
“Ya ampun, sampe kelupaan. Ayo Ki, duduk dulu. Nanti biar Caca buatkan minuman. Om dan tante mau pergi dulu ya, tolong jaga Caca.” Ucap mama ramah.
“Oh, iya. Terimakasih tante, om.”

Saat itu, aku dan Kiki di tinggalkan sendri di rumah. Kami berdua salaing melepas rindu, kami berbincang-bincang bagaimana keadaan kami masing-masing saat kami berpisah. Secara fisik, Kiki memang berubah drastis. Namun cara bicaranya tetap seperti dulu, hal itu lah yang paling ku rindukan darinya.

“Kamu tu nyebelin banget sih.” Ucapku padaya dengan manja.
“Emang aku nyebelin kenapa sih?” Sahut Kiki dengan wajah memelas.
“Masak waktu kamu telfon aku hari minggu kemarin, kamu marah-marah nggak jelas. Mana aku telfon nggak di angkat, aku SMS nggak di bales. Aku sampe nggak bisa tidur mikirin kamu. Huh!” Keluh ku padanya.
“Hehehehe, maafin aku ya Caca ku sayang. Aku sengaja kayak gitu. Soalnya aku pingin kasih kejutan sama kamu. Maaf ya Caca..”
“Huh, kamu tu bisa aja sih baby, bikin orang jantungan aja.”
“Ya deh, maaf. Buat nebus kesalahan ku, hari ini aku temenin kamu ngobrol sampai puas. Ok?”
“Hehehehe, ya deh.”

Sepanjang sore kami habiskan untuk mengobrol. Tak tanggung-tanggung, Kiki menceritakan segalanya selama ia tinggal di Kalimantan, termasuk gadis-gadis yang selalu berusaha mendekatinya. Sebenarnya, aku cemburu. Tapi, karena rayuan Kiki, aku nggak jadi cemburu.

Cukup lama Kiki berada di rumahku, katanya dia ingin melepas kerinduannya pada ku. Lagi pula mama dan papa ku juga masih ada di rumah Kiki. Sebenarnya, aku heran kepada mama dan papa, padahal orang tua Kiki baru tiba di Surabaya pagi ini, tapi kok mama papa langsung ke sana. Pastinya mereka masih lelah, tapi ya sudahlah.

Seusai maghrib mama dan papaku baru pulang, setelah sholat Kiki segera berpamitan pulang. Dia terlihat lelah, namun dia bahagia. Seuasai berpamitan pada mama dan papa ku, aku mengantarnya sampai pintu gerbang.

“Sayang, aku pulang dulu ya.” Ucapnya lembut.
“Iya sayang ku, hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut.”
“Iya, dada Caca. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam.”

Keesokan harinya, saat aku hendak berangkat ke sekolah, Kiki datang menghampiri ku. Ia menawarkan untuk berangkat ke sekolah bersama, karena kebetulan sekolah kami sejalan. Selama perjalanan kami asyik bercerita, tak terasa sudah tiba di sekolahku. Aku pun turun dari sepeda motor, saat itu semua anak perempuan disekolahku memandangi Kiki sambil berekspresi aneh dan cara bicaranya juga menjadi Lebay.

Aku yang menyadari hal itu, segera ku suruh Kiki berangkat, sembari melambaikan tangan dan mengucap teimakasih, ku iringi keberangkatannya. Semua anak perempuan yang melihatnya terpanah setengah mati.

“Dasar aneh.” Gumam ku dalam hati.

Saat aku mulai memasuki gerbang, semua anak mengerumuniku dan bertanya-tanya tentang siapa anak laki-laki itu.

No coment!” Jawabku singkat. Mereka terus memaksa ku, akhirnya aku jawab bahwa anak itu hanya orang yang memberiku tumpangan saat aku berangkat sekolah. Akhirnya mereka diam. Aku sangat bersyukur karena mereka sudah tidak seganas tadi.

Saat pulang sekolah aku menelfon Kiki dan mengatakan padanya kalau aku ingin pulang sendiri. Aku tidak mau kalau sampai kejadian pagi ini terulang lagi. Awalnya Kiki menolak, namun akhirnya dia mau mengerti.

Sepanjang jalan aku terus memikirkan Kiki. Tak henti aku bersyukur, betapa beruntungnya aku memilikinya, dia adalah orang yang baik, ramah, sederhana, lucu, dan taat pada agama. “Ya Allah, betapa beruntungnya hambamu ini. Bisa memiliki seorang Kiki.” Gumam ku dalam hati.

Keesokan harinya, seperti biasa aku berangkat sekolah. Sejak aku bangun pagi ini, firasatku sudah tak menentu, ada sesuatu yang mengganggu ku, menghantui ku. Aku berusaha melupakan hal yang ada di fikiran ku, namun…..

PPPPYYYYYAAAAARRRRRRRR……

“Caca! Ada apa?” Tanya mamaku terkejut.
“Maaf ma, aku memecahkan piring. Aku nggak sengaja.” Aku menjawab dengan merasa bersalah.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Yang penting kamu nggak terluka kan?” Tanya mama cemas
“Aku nggak apa-apa kok ma.”
”Mama lihat, dari tadi kamu kelihatan gelisah. Ada apa, sayang? Cerita sama mama.”
Nggak ma, aku nggak apa-apa.”
“Kamu jangan bohong sama mama! Mama tahu, ada yang sedang kamu fikirkan.”
“Ya deh ma, aku ngaku. Sejak bangun tidur tadi, firasatku sudah nggak enak ma. Aku sudah mencoba menghilangkannya. Tapi nggak bisa.” Ujarku menahan tangis.
“Yaampu sayang, sini nak, mama peluk. Kamu tadi sudah sholat kan?”
“Sudah, ma.” Sahutku lirih.
“Ya sudah, berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa. Ya sayang?!”
“Iya ma. Aku berangkat sekolah dulu ya, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Hati-hati ya, sayang.”
“Iya, ma.”

Selama perjalanan aku terus memikirkan sesuatu yang tidak jelas. Aku terus berjalan sambil melamun, berkali-kali aku hampir menabrak dan di tabrak sesuatu. Di sekolah pun begitu, hatiku tidak tenang sama sekali. Aku sangat gelisah, sampai pulang sekolah pun juga demikian.

Sore harinya, aku sudah sedikit tenang. Tiba-tiba Kiki menelfon ku, ia mengajak ku jalan-jalan nanti malam. Aku pun menyanggupinya, aku sangat senang saat Kiki menelfon ku. Hatiku sangat tenang saat mendengar suaranya.

Malam pun tiba, sesuai janji Kiki menjemput ku. Setelah meminta izin kepada kedua orang tua ku, kami berdua segera berangkat. Namun tiba-tiba perasaan itu datang lagi, malah semakin kuat. Sangat mencengkram, aku takut sekali.

“Ca, kamu kenapa? Kok kelihatan gelisah? Kamu nggak suka ku ajak keluar?” Tanya Kiki bingung.
“Oh, nggak Ki. Bukannya gitu, firasat ku mendadak nggak enak. Padahal tadi sore saat kau menelfonku, sudah hilang firasat ini. Tapi sekarang malah makin kuat dari sebelumnya. Aku takuk Ki, takut banget.” Keluh ku pada nya.
“Caca sayang, dengerin aku. Itu cuma firasat kamu aja. Kamu tadi sudah sholat kan?”
“Sudah.”
“Ya sudah, tenang aja. Nggak akan terjadi apa-apa kok. Percaya deh sama aku. Yang penting kamu berdoa saja.”
“Ya sudahlah, ayo kita pergi. Ntar kemalaman lagi.”
“Ok sayang ku.”

Aku sangat senang malam itu, aku berusaha berakting agar tak terlihat gelisah di hadapan Kiki. Aku tak mau membuatnya sedih dan khawatir. Entah mengapa, saat aku berada di dekat Kiki, aku merasa nyaman sekali saat itu. Saat ia memelukku, serasa tak ingin ku lepas lagi pelukannya. Aku takut kehilangannya, aku terlalu menyayanginya.

Kami berdua menghabiskan waktu di taman yang ada di tengah kota. Sungguh, aku sangat senang waktu itu, namun aku juga takut. Tak terasa adzan Isya’ sudah berkumandang, aku dan Kiki pun bergegas pergi mencari musholah atau masjid terdekat.

Saat itu, aku ingin mencoba mengendarai motor CB-Rnya Kiki. Walaupun aku seorang perempuan, aku juga bisa mengendarai motor cowok. Kiki pun mengizinkannya, namun ia memegangi pundakku, dia sedikit khawatir. Padahal, aku sudah bisa.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada mobil melaju sangat kencang dari arah berlawanan. Untung aku bisa menghindariya, hampir saja aku menabrak. Namun, di luar dugaan ku, tak lama setelah mobil itu berlalu, tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada mobil boks yang jalannya tidak karuan, mungkin sopirnya mabuk. Aku sudah berusaha menghindarinya, namun tak bisa.

“Caca!!!!! Awwaaaasssssss!!!” teriak Kiki ketakutan.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….” Teriak kami.

BBBBBRRRRRRUUUUUUAAAAAKKKKKK!!!!!!!!!!!!

Tabrakan pun tak bisa kami hindari, saat hampir menabrak Kiki langsung memelukku. Kami berdua terpental, saat itu helm Kiki terlepas, sehingga kepalanya membentur trotoar jalan dan mengalami pendarahan. Sedangkan aku hanya luka biasa, karena Kiki melindungi ku saat terpental. Seketika itu aku tak ingat apa-apa.

Tiba-tiba saat aku sadar, aku sudah ada di suatu tempat yang putih, di sampingku ada mama dan papa yang sedang menangis. Begitu aku sadar, mereka langsung memelukku. Aku masih bingung aku ada dimana.

“Ma? Pa?”
“Ya Allah, Papa!! Caca sudah sadar! Alhamdulillah.” Ujar mama sambil tersedu-sedu.
“Ya Allah, Caca anakku. Apa kamu baik-baik saja nak?” papa sangat khawatir.
“Ah, tangan ku sakit, kepala ku pusing. Aku dimana ma? Pa?”
“Kamu di rumah sakit sayang.” Ujar mama
“Rumah Sakit??!! Ma! Pa! Kiki? Mana Kiki ma? Pa? Mana Kiki?” Tanya ku kebingungan.
“Kiki…” Jawab mama lirih.
“Kiki tidak apa-apa Caca sayang, dia baik-baik saja. Kamu istirahat dulu ya.”
“Papa Bohong! Aku nggak percaya. Aku tadi lihat sendiri, kepalanya terbentur trotoar jalan dan keluar banyak darah. Papa pasti bohong! Mana Kiki, ma! Pa!” aku semakin khawatir dan air mataku pun menetes.
“Tapi kamu janji ya, kalau mama beri tahu kamu harus istirahat.”
“Iya ma! Aku janji! Cepetan ma!”
“Kiki… sekarang sedang di rawat intensif. Keadaannya sangat parah. Mama juga belum tahu keadaannya.” Jawab mama lirih.
“Ya Allah, ma! Kiki! Huhuhuhuhuhuhu..” Tak kuasa aku menahan tangis.
“Kamu yang sabar ya, sayang. Berdoa saja semoga Kiki baik-baik saja.” Papa segera menenangkan ku.
“Tapi….”
“Sudah, nanti kita lihat keadaannya.” Lanjut mama menenangkan ku.
Beberapa jam kemudian, dokter bilang aku sudah boleh pulang. Aku bisa mengikuti rawat jalan karena hanya luka ringan. Segera aku menarik tangan mama dan papa menuju ke tempat Kiki di rawat. Tanpa berfikir panjang, aku langsung masuk ke ruangannya. Ku lihat orang tua Kiki sedang menangis menungguinya.

Keadannya tampak sangat parah. Kaki ku gemetaran, aku tak bisa berkata-kata, tubuhku melemas seketika. Namun, ku paksakan tenagaku untuk berlari ke arah Kiki terbaring. Tak kuasa aku menahan air mata, aku pun langsung menangis memeluknya. Tak ku sangka, hal ini terjadi. Aku sendiri masih tidak percaya yang baru saja ku alami bersamanya.

“Bagaimana keadaan Kiki, Pak, Bu?” Tanya mama ku kepada orang tua Kiki.
“Dokter bilang, Kiki mengalami pendarahan di otaknya. Kemungkinan kecil dia bisa selamat. Dokter juga mengatakan, jika ia bisa selamat mungkin ia akan mengalami gagar otak parah.” Jawab ibu Kiki sambil tersedu-sedu.
“Yang sabar bu, kami juga merasa bersalah atas kejadian ini. Kami benar-benar minta maaf.” Lanjut papa ku.
“Iya pak, saya dan suami saya hanya berharap agar Kiki segera siuman. Itu sudah bisa membuat kami tenang.” Lanjut mama Kiki dengan tersedu-sedu.
“Om, tante! Saya minta maaf, ini semua kesalahan saya. Huhuhuhuhu.” Sela ku sambil menangis.
“Sudah lah, Caca. Ini bukan salah mu. sudah takdir dari yang kuasa.” Jawab ayah Kiki.

Saat itu suasana benar-benar menyedihkan. Orang tua Kiki terus berdoa tanpa henti sembari menitikkan air mata, orang tua ku  juga demikian, sedangkan aku tak bisa berhenti menangis sambil terus menyebut nama Allah dan Kiki, sambil mengingat kejadian mengerikan yang beberapa jam lalu ku alami bersama Kiki.

Tak henti kupandangi wajah yang rupawan itu, di balik balutan perban, tampak seulas senyum manis yang membuatku makin tersedu menatapnya. Begitu berat rasanya untuk melepaskan tangannya yang ku genggam erat. Seakan tak mau berpisah, apa lagi sampai kehilangannya.

Air mata ku seakan tak pernah habis untuk menangisi dan mendoakan seseorang yang sangat ku sayang dan rela mengorbankan nyawanya hanya demi aku. Sungguh, aku tak sanggup meninggalkannya saat ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB, akhirnya orang tua ku memutuskan untuk beramitan pulang. Namun, aku bersih keras untuk tetap menemani Kiki yang belum juga siuman. Orang tua ku tetap memaksa ku pulang, dengan lembut mereka berkata. Akhirnya aku luluh juga, dan ikut pulang dengan orang tua ku.

Sesampainya di rumah, aku tidak bisa memejamkan mata walaupun hanya sedetik saja. Tak ku sangka, firasat buruk itu benar-benar terjadi. Sungguh, aku tidak mempercayainya. Sepanjang malam, ku habiskan waktu ku untuk berdoa. Memohon kepada yang kuasa agar Kiki di beri kesembuhan.

Tak terasa, dari ufuk timur sang surya mulai menampakkan batang hidungnya. Aku memaksakan diri untuk berangkat sekolah, walaupun tubuhku serasa tak sanggup. Orang tua ku pun sebenarnya melarang, tapi aku hanya ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan dari para guru dan teman ku di sekolah, tentang penyebab aku tidak masuk sekolah.

Orang tua ku pun mau mengerti, walaupun dengan berat hati. Di sekolah, semua orang yang mengenalku bertanya tentang luka yang ada di kaki dan tangan ku.
“Kamu kenapa, Ca?”, “Tangan mu? Luka. Kenapa?”, “Loh? Ada apa dengan mu, Ca?”, “Caca, coba jelaskan pada ibu, kenapa tangan dan kakimu luka-luka?”
“Aku habis jatuh dari sepeda motor semalam.”

Hanya jawaban itu yang bisa ku berikan, aku tak ingin semua orang tahu selain orang tuaku. Aku merasa tidak nyaman jika banyak yang tahu.

Hari ini, Kamis, 7 Oktober 2010, aku kembali ke rumah sakit. Aku langsung menuju ke kamar Kiki di rawat. Namun, yang ku dapati di sana hanya Kiki yang sedang terbaring, tak berdaya. Kata orang tua Kiki, ia belum siuman sejak kemarin. Aku sangat sedih, aku bingung ada apa sebenarnya dengan Kiki.

Aku terus berada di sana hingga malam hari. Akhirnya, saat waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB, aku pun pamit pulang dengan perasaan yang campur aduk. Sensasi perasaan ini sangat luar biasa. Sebelumya belum pernah ku rasakan sensasi rasa yang mengerikan seperti ini. Perasaan yang bercampur aduk antara, takut, sedih, bingung, khawatir dan sedikit kebahagiaan.

Sesampainya di rumah aku langsung menuju ke kamarku, tanpa ku hiraukan hal lain, aku langsung mengarah kearah tempat tidurku. Ku hempaskan tubuhku begitu saja sambil menarik nafas dalam-dalam. Ku coba memejamkan mata sejenak, tak ku sangka aku tertidur dengan sendirinya. Aku terlalu lelah, bukan hanya raga kuseluruhnya.

Hari Jumat, 8 Oktober 2010, hari itu hujan sangat deras. Guntur yang bergemuruh, kilat yang menyambar dahsyat, seakan berlomba menunjukkan kehebatan masing-masing. Sementara itu, jutaan bahkan triliunan lebih titik-titik air berlomba menjatuhkan dirinya ke bumi.

“Hujannya sangat deras.” Ujarku pada papa.
“Iya, kamu pergi ke sekolah? Papa antar saja. Hujan selebat ini, tak mungkin kamu jalan kaki.” Bujuk papa.
“Baiklah, pa. untuk kali ini aku mau diantar.”

Tiba-tiba, HPku bergetar. Ku lihat ada satu SMS masuk dari teman ku. Kata teman ku, jalan menuju ke sekolahku banjir sehingga macet total, demikian juga sekolahku. Namu, aku tidak percaya, ku putuskan untuk tetap berangkat. Ternyata benar, jalannya macet total, sekolahku juga tergenang air.

Akhirnya, para guru memutuskan untuk memulangkan para siswa. Tiba-tiba HPku bergetar lagi, ku lihat di layarnya ternyata ibu Kiki yang menelfonku.

“Hallo, Assalamualaikum. Apa? Benarkah, tante? Alhamdulillah ya Allah, baik tante, saya segera kesana.”

Bergegas aku menelfon orang tuaku untuk menjemput ku, dan langsung menuju ke rumah sakit. Alhamdulillah, Kiki sudah siuman. Sepanjang jalan, tak henti ku ucap rasa syukur kepada yang kuasa. Perjalanan yang seharusnya bisa si tempuh dalam waktu 20 menit, karena banjir dan macet, jadi sampai 2 jam perjalanan.

Sesampainya di rumah sakit, aku segera berlalri ke ruangan tempat Kiki di rawat. Betapa senang aku saat itu, orang tua ku mengikutiku berlari di belakang. Ketika aku sampai di depan pintu kamar Kiki, langkahku terhenti ketika aku mendengar sesuatu.

“Ini ibu, nak! Aku ibumu!” Suara ibu Kiki yang terdengar kebingungan.
“Maaf, tapi aku tidak mengenal anda. Aku benar-benar tidak mengenali anda.”
“Ya Allah Kiki, kami Ayah dan ibumu. Apa kah kamu benar-benar tidak ingat, nak?”
“Maaf, pak. Saya tidak mengenal anda.”
“Ya Allah, masyaallah. Pak, Kiki Pak. Ya Allah Gusti, huhuhuhu.”
“Sabar, bu. Dia baru siuman, lihat saja kondisinya yang masih sangat lemah itu.”

Aku terkejut bukan main mendengar percakapan tersebut. Dada ku benar-benar sesak saat itu. Aku bertanya-tanya dalam hati, aku takut jika ketakutanku terbukti. Tiba-tiba mama dan papa mengejutkan ku, membuatku tersadar dari lamunan ku. Mereka berdua segera mengajakku masuk.

Kebetulan saat itu dokter yang merawat Kiki juga ikut masuk. Dokter berjalan paling depan, di ikuti oleh beberapa suster, kemudian orang tua ku. Aku masih berdiri di depan pintu kamar, menyiapkan mental ku yang perlahan mulai rapuh. Dengan melangkah lemas, ku buka pintu kamar. Aku terkejut bukan main, ketika aku mendapati Kiki yang telah siuman dan ibunya yang sedang menangis.

Saat itu perasaan ku senang bukan kepalang, namun kesedihan juga menghantuiku. Perasaan itu bercampur menjadi satu, membuat keringat dingin mengucur di kening ku. Ku coba untuk berjalan kearah Kiki yang terbaring lemah. Saat itu dokter telah meninggalkan ruangan.

“Kiki..” Ucap ku lirih
“Iya?” sahutnya lemah.
Sambil menahan tangis aku pun berkata “Kiki, ini aku! Caca!”
“Caca? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Ya Allah, Kiki. Kamu benar-benar tak ingat pada ku?”
Kiki hanya menggelengkan kepalanya.
“Ya Allah, Kiki! Aku Caca! Anastacia Chaitany! Kiki, coba kamu lihat aku! Tatap mataku dalam-dalam, kau pasti akan mengingat ku.”

Kiki pun menatap dalam-dalam mata ku. Namun..

“Aaaahhhhh, Kepalaku! Sakit! Sakit sekali! Astaghfirullah, sakiiiitttt!!” kiki mengerang kesakitan.
“Kiki? Kiki? Kamu kenapa, sayang?” Ibu dan ayah Kiki khawatir.
“Suster! Suster! Tolong!” Mamaku pun ikut kebingungan.

Seketika itu suasana jadi mencekam, beberapa suster dan dua orang dokter masuk dengan tergesa ke kamar Kiki. Kami semua di suruh berada di luar. Saat itu kami semua ketakutan, bingung dan khawatir. Tak ada hal lain yang ada di fikiran ku selain berdoa tanpa henti.

Satu jam telah berlalu, aku sangat cemas, begitu pula dengan orang tua Kiki. Tak lama setelah itu, dokter keluar.

Dengan cemas, ibu Kiki bertanya. “Dok, bagaimana anak saya?”
“Iya, Dok. Bagaimana keadaan anak saya?” Ayah Kiki pun sangat cemas.
“Maaf, pak, bu. Anak ibu dan bapak kondisinya sangat tidak memungkinkan. Kami sudah memberikan obat penenang syaraf, sekarang dia sedang tidur. Tadi, ia terlalu banyak berfikir. Sebaiknya ibu dan bapak berdoa saja, semoga masih bisa di tolong. Kami akan berusaha sebisa mungkin.” Jawab sang dokter serius.
“Ya Allah, pak. Kiki, huhuhuhuhuhu.” Ibu Kiki pun menangis dan memeluk ayah Kiki.
“Sabar, bu. Ini ujian dari Allah. Kita harus sabar.” Walaupun sedih, ayah Kiki tetap berusaha menhgibur.

“Dok, apakah nak Kiki tak bisa ditolong?” Tanya mama ku.
“Saya tidak bisa memastikan, bu. Hanya Allah yang menentukan, kami hanya bisa berusaha.” Jawab sang dokter, bijak.
“Dok, saya mohon. Saya memohon dengan sangat, sembuhkan nak Kiki.” Kata papa ku.
“Tenang, pak. Seperti yang saya katakana tadi, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Kalau begitu permisi.”

Aku tak sanggup berkata-kata, aku terpaku, tangan dan kaki ku lemas, aku serasa tak punya tenaga untuk berdiri, bibir ku gemetaran. Seketika itu mata ku terasa begitu panas, air mata pun mengucur dengan sendirinya. Sementara, nafasku tak beraturan. Serasa ada yang mencekikku dengan kuat.

Akhirnya, orang tua ku pun memutuskan untuk pulang. Menurut mereka, sebaiknya kita biarkan Kiki beristirahat sampai ia benar-benar sadar. Aku pun menurut, dengan perasaan kecewa, aku pulang. Sepanjang perjalanan, aku tak bisa berhenti menyalahkan diri ku. Kejadian itu begitu cepat. Aku benci diriku.

Sabtu pagi, aku mendapat telfon dari orang tua Kiki. Katanya, Kiki sudah siuman walaupun kondisinya sangat lemah. Sebenarnya, aku ingin kesana, namun aku masih tidak ingin mengganggunya. Aku ingin ia beristirahat, semoga saja ia bisa sembuh.


“Jadi, sekarang Kiki masih berada di rumah sakit?” Tanya Vie.
“Iya.”
“Kenapa sekarang kamu malah ada di sini? Kenapa kamu nggak temuin dia?” lanjut Riri.
Wait! Tunggu! Terus, kenapa kamu nggak mau cerita sama kita dari awal coba?” Tanya Luna yang semakin penasaran.
“Terus, kenapa kamu pakek bohongin kita segala? Kenapa kamu nggak ngomong ke kita kalau kamu habis kecelakaan?” Tanya Vie semakin mendesak.
“Kenapa kamu ngomong kalau luka mu itu karena jatuh?” Luna semakin mendesak.
“Teman-teman, maafin aku. Aku nggak bermaksud bohong! Aku Cuma nggak pingin kalian khawatir. Aku nggak mau berita ini tersebar kemana-mana. Orang tua ku juga ku suruh tak mengatakan apa pun kepada siapa pun. Aku tak mau semua orang tahu.” Jelas Caca panjang lebar.
“Ouh, Caca. Sabar ya, kami di sini nggak bisa bantu banyak.” Tutur Luna.
“Maafin kami, Ca. Tadi kami bersikap tidak menyenangkan, itu semua kami lakuin karena kami khawatir sama kamu.” Sambung Vie
Riri tak mau kalah. “Iya, Ca.”
Nggak apa-apa kok, aku bisa ngerti kekhawatiran kalian. Makasih ya, kalian emang yang terbaik.” Jawab Caca senang.

Mereka berempat pun berpelukan, Caca sangat beruntung. Hidupnya di kelilingi orang-orang yang sangat menyayanginya. Caca pun menangis dalam pelukan teman-temannya. Ia tak kuasa meanahan sedih dan bahagia yang bercampur aduk.

Setelah tangisannya reda, caca duduk termenung menatap ombak yang tenang. Bergejolak seiring gejolak di dadanya yang tak beraturan, terkadang ganas, terkadang datar. Tak hayal, fikirannya melayang di bawa angin malam pantai yang berhembus sepoi-sepoi.

Terngiang di benaknya, sat-saat indah bersama yang ia lalui bersama Kiki. Rasanya waktu beralalu terlalu cepat, Caca sangat takut kehilangan Kiki. Seketika itu, ia mulai menitikkan air mata. Sahabat-sahabatnya, tak ingin mengganggunya dulu. Mereka ingin membuat Caca lega, sehingga di biarkannya ia menangis.

Setelah tangisan Caca reda, ia merasa sedikit lebih baik. Sahabat-sahabatnya tak sanggup membantu banyak, selain memberi semangat untuknya dan mendoakan kesembuhan Kiki. Akhirnya, Riri mengajak Caca pulang, agar Caca bisa mendinginkan hati dan fikirannya. Sebenarnya, malam ini Vie, Luna dan Riri ingin mengajak Caca bermalam di rumah Luna untuk memberi kejutan kepada Caca. Namun karena kejadian ini, jadi batal rencana mereka.

Setelah Caca dan Riri berpamitan kepada Vie dan Luna, mereka segera tancap gas. Kali ini, Riri yang membonceng Caca. Riri takut, hal seperti tadi terulang lagi. Sesampainya di rumah Riri, ia langsung turun dan menyerahkan sepeda motor kepada Caca. Sampai di rumah, Caca langsung tidur, ia ingin melepaskan semua kepenatannya. Ia ingin melupakan sejenak saja masalah yang ia lalui.

Keesokan harinya, tiba-tiba HP Caca berdering. Ternyata itu ibu Kiki.

“Haduh, Siapa sih ini? Ya Allah, ibunya Kiki!” dengan cepat Caca mengambil HPnya.
“Maaa, Paaa! Ibunya Kiki menelfon.” Caca segera memanggil orang tuanya.
“Pa, dia sudah bangun. Bagaimana ini? Kita belum siap.” Ucap mama Caca kepada papa Caca.
“Haduh, ma. Ya sudah, biarkan saja, kita hampiri saja dia. Katanya ibu Kiki menelfon.” Sahut Papa panik.
“Mamaaa!! Papaaa!! Buruan!” Teriak Caca lagi.
“Iya, sayang. Sebentar!.” Sahut mereka, kompak.

“Ada apa sayang?” Tanya mama.
“Ibu Kiki menelfon.” Sahut Caca.
“Ya sudah sekarang kamu angkat dong sayang.” Ujar papa

“Halo, Assalamualaikum. Dengan Caca?”
“Iya, Waalaikumsalam. Iya tante, saya sendiri. Ada apa ya?”
“Nak Caca, Kiki sudah bisa mengingat kembali. Namun, sayangnya hanya nama mu yang bisa ia ingat. Sejak pertama siuman, ia terus menyebut nama mu. Ia ingin agar kau datang sekarang juga.”
“Ya allah, alhamdulilah. Benarkah itu tante? Baik saya dan orang tua saya akan kesana secepatnya.”
“Baiklah, wassalamualakum.”
“Waalaikum salam.”

“Kenapa, Ca? Kok kamu seneng banget?” Tanya papa.
“Iya, kenapa sayang?” tambah mama.
Sambil memeluk orang tuanya, Caca pun menjawab. “Ma, Pa. Kiki sudah bisa mengingatku. Ya Allah, aku senang sekali. Huhuhuhu.”
“Subhannallah, ya sudah. Jangan menunggu lagi. Ayo sekarang kita ke sana.” Sahut papa.
“Iya, pa! Ayo cepat! Caca, kamu cepat mandi dan segera kita ke rumah sakit.”
“Baik, ma.”

Setelah bersiap-siap, mereka pun berangkat. Selama di dalam mobil, Caca tak henti tersenyum sendiri. Orang tuanya pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Caca yang terlalu senang itu. Untunglah jalan tidak macet, jadi cepat sampai.
Setibanya di rumah sakit, Caca langsung berlari menuju ke kamar Kiki. Betapa senang perasaannya saat itu, tak di sangkanya, Kiki bisa mengingatnya lagi.

“Assalamualaikum.” Ucap Caca dan kedua orang tuanya
“Waalaikumsalam.” Sahut Kiki dan orangtuanya.
“Caca…” Ujar Kiki lembut.
“Kiki.. Ya Allah, Kikiiii…..” Caca pun langsung berlari ke arah Kiki.
“Alhamdulillah Ca, aku senang bisa melihatmu lagi.”
“Ya Allah, Kiki. Kamu benar-benar ingat pada ku.”
“Tentu saja, aku sangat merindukan mu.”
“Ya allah, Kiki.” Caca pun menangis bahagia.

Subhannallah, sungguh tak disangka-sangka. Kiki yang sangat di sayang oleh Caca, bisa mengingatnya kembali, padahal beberapa hari lalu, ia tak bisa mengingat siapa pun. Bahkan Kiki bisa duduk dengan tegap, walaupun tak mampu untuk berdiri. Sungguh, kuasa Allah memang besar.

“Sebelumnya, saya minta maaf. Apakah kalian bisa meninggalkan ku bersama Caca di sini.” Pinta Kiki.
“Oh, baiklah.” Sahut ibu Kiki.
“Pak, bu. Mari kita tinggalkan mereka berdua.” Ujar mama Caca.
“Iya, mari.” Sahut ayah Kiki

Mereka pun meninggalkan Caca dan Kiki sendiri. Menurut mereka, lebih baik begini. Karena hanya Caca yang mungkin bisa membantu Kiki untuk sembuh.

“Caca…” Sapanya lembut
“Iya Kiki ku sayang.” Sahut Caca
Sambil menyentuh pipi Caca, Kiki berkata dengan berat hati “Sayang, aku takut kehilangan mu. Aku takut sekali, aku sangat menyayangimu.”
“Kiki! Kenapa kamu berkata bgitu? Aku yakin, kamu pasti sembuh. Aku yakin itu!” Sahut Caca sambil menahan tangis.
“Sudah lah, lupakan kata-kata ku tadi. Jangan menangis, aku akan semakin berat jika kau menangis.” Ucapnya lembut.
“Berat? Maksud mu?” Caca semakin bingung.
Kiki mengusap air mata Caca dan berkata. “Ndak, bukan apa-apa. Jagan di fikirkan, yang penting sekarang kamu hapus air mata kamu. Aku nggak mau lihat kamu nangis gini!”
“Baiklah..” Sahut Caca lemas.

Sejenak mereka terdiam dan saling bertatap muka. Pandangan mereka seakan tak ingin melepas satu sama lain, terlebih Caca. Di rasanya kedamaian di mata Kiki yang sangat ingin tetap dilihatnya, yang sangat ingin di milikinya dan sangat ingin di jaganya itu.

“Caca! Happy B’ Day ya, sayang ku.” Suara Kiki memecah keheningan.
“Apa? Siapa? Kapan? Ulang tahun? Siapa?” Caca bingung setengah mati.
“Caca ku sayang, hari ini hari ulang tahunmu. Apa kau lupa?” Tanya Kiki.
“Benarkah? Astaghfirullahaladzim. Benar, ini hari ulang tahun ku. Ya Allah, Kiki! Kau mengingatnya, subhannallah.” Caca semakin bahagia.
“Tentu saja, sayangku.  Aku punya sesuatu untuk mu, tutup mata mu.”
“Sesuatu? Apa itu?”
“Sudah lah, tutup matamu!”

“Sekarang, buka! Tarraaaa”
“Ya Allah, Kiki. Cantik sekali. Apa kalung ini sungguh untukku.”
“Tentu saja, sayang ku. Coba kau pakai. Sini biar ku pakaikan.”
“Subhannallah, cantik sekali.”
Yupz, tentu saja! Lihat ini. Kalung ini melambangkan hati kita, setengah milikku dan setengahnya milikmu. Jika kita dekatkan, akan menjadi satu hati.” Ujar Kiki sambil mendekatkan kalung yang dipakai Caca dengan yang di pakainya.

Saat itu, kehangatan menyelimuti tubuh Caca. Ia benar-benar tak ingin saat ini cepat berlalu. Ia terlalu menyayangi Kiki.

“Kiki! Huhuhu..” Caca menangis bahagia.
“Kenapa, sayang? Mengapa kau menangis.”
“Aku sangat bahagia bisa memilikimu. Akau tak mau kehilanganmu. Ngomong-ngomong, kapan kamu membeli kalung ini?”
 “Sehari sebelum aku berangkat ke Surabaya. Ini hadiah special untukmu, jadi ku harap kau jangan sampai menghilangkannya atau sampai membuangnya.”
“Ya Allah, tak ku sangka kau melakukan semua ini.” Caca semakin tersanjung.
“Apa sih yang nggak buat kamu, sayang.” Kiki menggenggam tangan Caca
“Baik! Aku berjanji kepada mu! Kalung ini, akan ku jaga baik-baik.”

Tak bisa di ungkapkan lagi dengan kata-kata, betapa senang Caca saat itu. Ia benar-benar bersyukur memiliki kekeasih seperti Kiki. Namun….

“AAaaaarrrggghhhhh!!! Sakit! Kepalaku! Sakit sekali!” Kiki merintih kesakitan.
“Ya Allah! Kiki! Kamu kenapa? Kiki?” Caca panic bukan main.
“Caca, bbeer bbeerjanji la laahh u u untukk mmenn jaa ggaa kkallung iinii ddaa daaann jjaa jjangann bberr ssee ee bersedih! Sse see lamatt ttii ttiinnggal! Aaaarrrggghhh!!!” Kiki berusaha berkata-kata dengan terbata-bata. Kiki menggenggam tangan Caca makin erat dan tiba-tiba melemah dan terlepas.

“Kiki! Kikii!! Maaaa! Ppaaa!! Oomm! Tanttee! Tolooooonnngg!! Kikiii!!!!” Caca sangat panik.

Segera orang tua Caca dan Kiki masuk ke kamar Kiki.

“Ya Allah Kikii!!” Mama Caca berteriak panik.
“Suster, Dokter! Tolong!” Orang tua Caca juga sangat panic.
“Ya Allah, pak! Ada apa dengan Kiki?” ucap ibu Kiki yang sangat panic.
“Bapak juga nggak tahu, bu.” Ayah Kiki semakin cemas.

Tiba-tiba para suster dan seorang dokter masuk ke kamar Kiki.

“Maaf, sebaiknya bapak dan ibu menunggu di luar.” Ujar sang dokter.

Setelah semua keluar, dokter bekerja keras di dalam. Semua mendoakan agar Kiki bisa selamat, terlebih orang tua Kiki dan Caca. Ibu Kiki tak berhenti menangis, apa lagi Caca. Ia sangat takut kehilangan Kiki, orang yang sangat di sayanginya.

Cukup lama dokter menangani Kiki, namun tak kunjung selesai. Orang tua Kiki semakin cemas. Mereka tak henti-hentinya mengucap sholawat.

Beberapa saat kemudian, dokter keluar.

“Siapa keluarga ananda Ricki?” Dokter bertanya dengan nada serius
Dengan tergesa, ibu Kiki menjawab. “Iya, Dok? Bagaimana keadaan anak saya?”
“Maaf pak, bu! Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Namun, Allah berkehendak lain. Kami sudah berusaha keras, tetapi tak sanggup di tolong.” Jawab dokter serius
“Ya Allaaaahhhhh!!!!! Kikiiii!!” Ibu Kiki segera berlari masuk kamar, begitu juga dengan ayahnya, Caca dan orang tua Caca.
“Ya Allah, Kiki anakku..” Ujar orang tua Kiki histeris.

Orang tua Kiki sangat terkejut, mereka tak percaya. Anak kesayangan dan satu-satunya kini telah pergi jauh meninggalkan mereka.

“Innalillahi wa innaillaiihii warojiunn.” Ucap orang tua Caca

Caca yang tak percaya dengan apa yang di lihatnya, hanya terpaku lemas tak bergerak. Sekujur tubuhnya bergetar hebat, jantungnya seakan berhenti berdetak, nafasnya hampir putus, dan akhirnya pingsan. Sontak, orang tua Caca bingung. Papa Caca segera mengangkat anaknya dan mendudukan di kursi tunggu depan kamar Kiki.

Sementara, di dalam kamar, para suster sedang sibuk melepaskan alat-alat yang di pasang disekujur tubuh Kiki. Orang tua Kiki hanya bisa menangis dan berdoa. Mereka benar-benar belum mengikhlaskan kepergian putra tunggalnya itu.

Setelah jenazah Kiki di tutup oleh kain putih, orang tua Kiki segera menuju ke bagian administrasi untuk melunasi pembayaran dan berpesan agar jenazah putranya tidak di apa-apakan. Mereka ingin segera membawanya pulang dan memakamkan jenazah anaknya.

Caca sekarang telah siuman, segera papanya memberikan ia minum. Di biarkannya Caca mengambil nafas untuk melegakan perasaannya.

“Ma, Pa. Kiki.. huhuhuhu..” Caca menangis tersedu-sedu.
“Iya sayang, kami mengerti bagaimana perasaanmu.” Mamanya langsung memeluknya.
“Kamu yang sabar ya, sayang. Papa tahu ini berat bagi mu. Namun, kita bisa apa? Allah telah memanggilnya, itu artinya Allah sangat menyayangi Kiki.” Ucap papanya bijak.
“Benar kata papa mu, sekarang hapus air matamu. Cobalah mengikhlaskan kepergiannya, doakanlah dia tenang di sana. Apakah sebelumnya Kiki tidak meninggalkan pesan padamu?” Lanjut mamanya.
Caca pun merespon dengan lirih. “Papa dan mama benar. Aku aharus mencoba mengikhlaskan Kiki. Iya, ma. Sebelum meninggal, Kiki berkata pada ku agar menjaga baik-baik kalung pemberiannya dan ia juga berpesan agar aku tidak boleh bersedih, katanya ia akan semakin berat meninggalkan ku jika aku bersedih.”
Tu kan, Kiki sudah berpesan kepadamu. Kamu harus melaksanakan amanatnya.” Ucap mama.
“Baik ma, tapi bolehkan aku bersedih saat ini. Aku masih sangat terpukul ma, pa?”
“Tentu sayang, setiap orang boleh bersedih. Tapi segera lah bangkit! Ok, sayang?” Jawab papanya.

Setelah itu, Caca dan orang tuanya berpamitan kepada orang tua Kiki untuk kembali kerumah. Orang tua kiki mengatakan bahwa jeazah Kiki akan dibawa pulang besok pagi dan segera di kebumikan.

Selama perjalanan, Caca tak bisa berhenti menangis. Orang tuanya bisa paham dengan keadaan anaknya, namun mereka juga berusaha agar anaknya tak terlalu larut dalam kesedihan.
Setibanya di rumah, Caca langsung meng-SMS ketiga sahabatnya.

Frendzz, Kiki! Ia udah pergi jauh untuk selamanya. Akk nggak biisaa ktm diia lagi. Allah telah memanggilnya pulang. Aku kehilangan orang yang sangat ku sayang.”

Sampai Sore hari tiba, SMS Caca tak kunjung dibalas oleh keempat sahabatnya. Ternya seusai maghrib mereka datang kerumah Caca.

“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam. Eh, kalian. Mari masuk.”
“Iya tante, terimakasih. Caca ada?” sahut Luna.
“Ada, silahkan masuk. Tunggu ya, tante panggilkan anaknya.”

Caca segera turun dari kamarnya, keadaannya tampak tak baik. Bahkan sangat kacau.

“Vie! Luna! Riri! Huhuhuhuh …” caca langsung menangis di pelukan teman-temannya.
“Ya Allah, Caca. Kamu yang sabar ya!” Ucap Luna
“Iya, Ca. kamu yang sabar.” Lanjut Vie.
“Mungkin ini yang terbaik untuknya, Ca. kamu harus bisa mengikhlaskannya.” Lajut Riri sok bijak.
“Huhuhuhuhu, aku.. aku.. aku nggak tahu kudu gimana! Aku masih belum bisa merelakannya!” Ucap Caca tersedu-sedu.
“Yang sabar, Ca. Kira-kira, kapan jenazahnya dimakamkan?” Tanya Riri.
“Besok.”
“Kalau gitu, besok kita semua bisa datang untuk penghormatan terakhir kepada almarhum Kiki.” Lanjut Luna.
“Hhhmmmm” Jawab Caca singkat.

Mereka berempat terus membahas tentang almarhum Kiki. Sahabat-sahabatnya sangat prihatin melihat Caca yang keadaannya sangat kacau. Mereka hanya bisa memberi semangat kepada Caca.

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, Vie, Luna dan Riri segera pamit pulang. Setelah ketiga sahabatnya pulang, Caca segera naik ke kamar dan langsung terlelap. Ia sangat lelah, tenaganya terkuras habis setelah seharian menangis dan melamun. Kebetulan, besok sekolahnya libur, sehingga Caca bisa hadir di pemakaman.

Ketika tidur, ia bermimpi. Kiki menghampirinya di suatu tempat yang sangat indah.

Caca, aku sayang kamu. Jadi ku mohon, lepaskan kepergian ku dengan ikhlas. Aku tak sanggup meninggalkan mu dengan keadaan seperti ini. Berat sekali rasanya melihat mu menderita, ku mohon ikhlaskan kepergian ku. Biarkan aku tenang di sisi-Nya. Ini permohonan terakhirku kepadamu sebelum aku benar-benar pergi. Jadi, ku mohon. Kabulkan permintaan ku. Ya, Caca ku sayang.”

Di dalam mimpinya, Kiki memeluk caca dengan erat dan mengecep keningnya, setelah itu Kiki menghilang tiba-tiba. Caca yang terkejut segera terbangun, dan di dapatinya fajar telah menyongsong.

Caca pun menyadari, itu pesan terakhir dari Kiki, sebelum Kiki benar-benar pergi dari dunia ini. Caca pun berusaha mengabulkan permohonan Kiki. Tiba-tiba mamanya masuk ke kamarnya. Mamanya menyuruh agar Caca bersiap-siap untuk upacara pemakaman Kiki.

Caca segera bangun dari tempat tidur dan meng-SMS teman-temannya agar segera bersiap-siap. Caca sibuk mencari baju terbaik untuk upacara pemakaman Kiki, setelah itu ia segera mandi dan turun untuk sarapan.

Ke tiga sahabatnya telah menghampirinya, akhirnya mereka berempat beserta orang tua Caca berangkat ke rumah Kiki.

Setibanya di sana, Jenazah Kiki tengah di mandikan. Seusai itu jenazah Kiki di sholatkan, Caca tak henti melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran untuk ketenangan arwah Kiki. Tiba-tiba Ibu Kiki menghampirinya. Ketika jenazah Kiki di kafani, ia sempat melihat seulas senyum dari bibir manis Kiki. Hal itu membuat Caca semakin berat melepaskan Kiki.

“Nak, Caca.” Sapa ibu Kiki lembut.
“Iya, bu? Ada apa? Oh, iya. Saya turut berduka cita atas kepergian Kiki. Saya harap, ibu di beri kesabaran dan ketabahan dan ibu juga mau memaafkan saya. Ini semua kesalahan saya.” Air mata Caca hampir menetes.
“Sudah lah nak Caca, ini bukan kesalahan mu. Ini sudah takdir, ibu juga tahu kalau kamu merasa sangat kehilangan. Oh, iya. Ini kalung milik Kiki, ibu hanya ingin memberikan ini.”
“Kalung? Bagaiman ibu bisa tahu?” Caca keheranan.
“Tentu saja ibu tahu. Ibu yang menemani Kiki membeli kalung ini saat di Kalimantan.”
“Astaghfirullah, terimakasih banyak ya, bu.”
“Sama-sama.” Sahut ibu Kiki sambil tersenyum.

Tak lama kemudian, jenazah Kiki sudah siap untuk di makam kan. Setelah di masukkan ke dalam kereta mayat, jenazahnya segera di antarkan ke pemakaman. Di sana sudah di siapkan liang kubur, batu nisan dan juga papan kayu.

Setelah di doakan, jenazah Kiki segera di kubrkan. Sedikit demi sedikit, raga Kiki mulai tertutup papan kayu dan tanah. Caca sebenarnya tak sanggup melihat jenazah Kiki di timbun tanah, ia masih ingin menyentuh tangannya untuk yang terakhir kali. Namun, sudah terlambat. Bunga mulai di taburkan, Caca pun juga ikut menaburkannya.

Sahabat-sahabatnya juga ikut menaburkan bunga di makam Kiki. Seusainya di doakan, satu-persatu para pelayat meninggalkan makam. Hanya tinggal Caca dan ketiga sahabatnya di sana. Di depan makam Kiki, Caca terduduk lemas sambil mengusap batu nisan di makam Kiki.

Ketiga sahabatnya hanya mengusap punggung Caca tanpa berkata-kata. Mereka semua terpaku meliahat makam Kiki yang telah ditaburi bunga. Tiba-tiba, Caca teringat akan sesuatu.

“Kiki, aku sangat menyayangimu. Aku benar-benar kehabisan kata-kata. Aku hanya berharap, kau bisa beristirahat dengan tenang di sana.”
“Yang sabar ya, Ca!” Ucap ke tiga sahabatnya.
“Ayo, Ca! kita kembali. Tempat ini sudah sepi.”
“Sebentar!” Caca mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.

Caca meletakkan kalung yang di berikan oleh ibu Kiki tadi. Kalung itu kalung yang di pakai oleh Kiki sebelum ia meninggal. Caca mengalungkan kalung Kiki di batu nisannya. Ketika ia mengalungkan kalung tersebut, ia melihat sosok Kiki yang tersenyum manis kearanya sambil melambaikan tangan, Caca pun membalas dengan melambaikan tangannya.

“Ca! kamu kenapa?” Riri mengagetkan Caca.
Nggak, tadi aku lihat Kiki sedang melambaikan tangan kepada ku.”
“Ah, Caca! Kamu ni! Ada-ada aja!” sahut Vie merinding.
“Itu tandanya, Kiki ingin mengucapkan selamat tinggal kepadamu.” Ujar Luna.
“Iya. Ya sudah, ayo kita pulang.”

Sebulan telah berlalu. Caca sebenarnya masih tidak sanggup melupakan Kiki. Ia terlalu menyayanginya. Caca benar-benar berat untuk melepaskan Kiki, namun apa yang bisa di lakukannya? Itu sudah takdir dari yang kuasa.

Malam harinya, ketika Caca tengah terlelap. Tiba-tiba, Kiki hadir di mimpinya. Kiki kembali berpesan kepada Caca.

“Caca, aku sudah tenang di sana. Namun, aku masih sangat khawatir dengan keadaan mu. Caca! Ku mohon! Ku mohon dengan sangat! Lupakan lah aku! Ikhlaskan kepergian ku, aku tak ingin kamu tersiksa. Carilah orang lain yang dapat menggantikan ku, namun satu hal yang perlu kau ingat, jangan pernah kau buang kalung itu.”

Tiba-tiba, Kiki menghilang. Caca terbangun, ia melihat jam, ternyata masih menunjukkan pukul 00.00 WIB. Caca sadar, Kiki hanya ingin dirinya senang. Kiki hanya ingin ia mengikhlaskan kepergiannya. Akhirnya sejak saat itu, Caca bisa sedikit demi sedikit melupakan Kiki.

Dua bulan telah berlalu, Caca pun menemukan sosok baru yang telah mengisi hatinya. Ia yakin, Kiki sekarang telah senang dan bahagia di alam sana. Saat ini, beban fikiran mengenai Kiki telah lenyap semua. Caca berhasil mengikhlaskan Kiki, namun ia masih tetap mengenang segala hal tentang Kiki di lubuk hatinya


Aku tahu….
Hidup ku tak akan lama lagi….
Sebenarnya, sangat berat untuk melepaskan mu…
Namun, Allah telah menyiratkan takdirku hanya sampai di sini…
Sebelum aku pergi…
Aku hanya ingin membahagiakan mu..
Aku ingin melihat senyum manismu…
Sudah 2 tahun sejak kepergianku, aku tak pernah melihat senyummu…
Aku sangat merindukan hal itu..
Satu hal yang ku janjikan untukmu sayang…
Aku takkan berhenti melindungi mu, kecuali aku sudah benar-benar tak sanggup…
Walaupun aku harus kehilangan mu lebih cepat..
Walaupun aku harus pergi jauh meninggalkan mu..
Aku rela..
Aku akan tetap melindungi mu….
Ku harap, dengan kepulangan ku ke Surabaya, bisa mengobati kerinduan ku terhadap sosokmu, dan bisa membuatmu bahagia di akhir hayatku…
Maaf kan aku, jika sebelumya aku bersikap konyol dengan berpura-pura marah kepadamu..
Namun, sungguh…
AKU SANGAT MENYAYANGIMU…..
..ANASTACIA CHAITANY..

Sepucuk surat itu lah, yang di temukan oleh ibu Kiki saat ia membuka buku harian anaknya. Ibu Kiki sangat terkejut, bagaiman mungkin anaknya bisa mengetahui jika malaikat maut segera menjempuntya. Tanpa berfikir panjang, ibu Kiki segera memberikan surat itu kepada Caca.

Betapa terkejut Caca saat menerima surat itu. Sekujur tubuhnya lemas, bahkan ia tak mampu untuk berdiri, dan satu hal yang pasti, Caca menangis…

Ia teringat kembali akan sosok rupawan Kiki yang sangat disayanginya. Sungguh Caca tak mengerti takdir, walaupun ia berusaha memahami. Namun sungguh, logika tak dapat menjelaskan hal ini…

Tersenyumlah saat kau mengingatku
Karena saat itu, aku sangat merindukanmu
Dan menangislah saat kau merindukanku
Karena saat itu aku tak berada di sampingmu
Tetapi pejamkanlah mata indah mu itu
Karena saat itu aku akan terasa ada di dekatmu
Karena aku telah berada di hatimu untuk selamanya
Tak ada yang tersisa lagi untukku
Selain kenangan kenangan yang indah bersama mu
Mata indah yang biasa dengannya aku melihat keindahan cinta
Mata indah yang dahulu adalah milikku
Kini semuanya terasa jauh meninggalkan ku
Kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu
Hati, cinta dan rinduku adalah milikmu
Cinta mu takkan pernah membebaskan ku
Bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain
Saat sayap-sayap ku telah patah karena mu
Cinta mu akan tetap tinggal bersama ku
Hingga akhir hayat ku, dan setelah kematian
Hingga tangan Tuhan akan menyatukan kita lagi
Betapa pun hati telah terpikat dengan sosok terang dalam kegelapan
Yang tengah menghidupkan sinar redupku,
Namu tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaan ku yang sesungguhnya
Aku tak pernah bisa menemukan cinta yang lain selain cinta mu
Karena mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwa ku
Kau takkan pernah terganti…
Bagai pecahan logam, mengekalkan kesunyian, kesendirian  dan kesedihan ku
Kini, aku telah kehilangan mu……

(PUISI D#ANGEL)






##########







0 comments:

Post a Comment

 

Sandi Blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea